bioethanol

Rabu, 21 September 2011

Wow,,, Petani Banyumas Hasilkan 150 Kilogram Singkong Per Pohon

 
Tribunnews.com - Minggu, 23 Mei 2010 06:12 WIB
TRIBUNNEWS.COM, BANYUMAS
Tumarjo (57), petani dari Desa Kebasen, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, menemukan teknologi penanaman singkong dengan hasil buah singkong bisa mencapai satu setengah kuintal per pohon. Ia menggunakan metode penyambungan (grafting) dari dua jenis batang singkong berbeda, yaitu singkong karet dan singkong gatot kaca.

Tumarjo mengaku, sejak tahun 2007 ia sudah menghasilkan singkong seberat satu setengah kuintal dari menanam satu pohon singkong. Namun, singkong tersebut hanya dikonsumsi sendiri dan tidak dijual karena hanya untuk dibanggakan keluarga sendiri.

”Petani lain belum ada yang tertarik untuk tanam singkong saya ini. Mungkin belum berani,” ujarnya saat ditemui, Sabtu (22/5/2010).

Ia menuturkan, singkong yang dipanennya tersebut merupakan hasil grafting antara jenis singkong karet dan singkong gatot kaca. Batang singkong karet ditempatkan pada sambungan atas, sedangkan batang singkong gatot kaca yang ditanamkan di dalam tanah.

Menurut Anto (23), salah seorang anak Tumarjo, awalnya, keluarganya mencoba sistem penyambungan antara batang singkong karet dan singkong armona. Penyambungan itu menghasilkan singkong berbentuk panjang. Namun, panjangnya melebihi singkong armona biasa yang hanya 20 sentimeter, yakni mencapai satu meter. ”Singkong panjang-panjang itu lebih cocok untuk tape, seperti di Jawa Barat,” katanya.

Ayahnya kemudian mencoba menyambung singkong karet dan singkong gatot kaca yang memiliki bentuk umbi singkong lebih pendek dan bulat. ”Setelah disambung dengan singkong jenis gatot kaca, hasilnya bagus.”

Kepala Dinas Pertanian Banyumas Djoko Wikanto mengatakan, pihaknya tertarik untuk mengembangkan budidaya singkong dengan penyambungan batang singkong karet dan batang singkong gatot kaca bagi petani Banyumas. Singkong sebesar itu potensial sebagai bahan baku bioetanol. (Kompas Cetak)

ICMI Dirikan Pabrik Bioethanol di Garut

oleh ICMI - IKATAN CENDEKIAWAN MUSLIM SE-INDONESIA pada 12 Januari 2011 jam 8:52

 

Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan didampingi Presidium ICMI, Nanat Fatah Natsir meresmikan pabrik bioethanol

 Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia Orwil Jawa Barat, mendirikan pabrik bioethanol di Desa Cijambe, Kecamatan Cikelet, Kabupaten Garut. Bahan baku untuk menghasilkan bioethanol tersebut berasal dari singkong.
 “Program ini merupakan pilot project,” ujar Ketua ICMI Orwil Jawa Barat, Uton Ruston dalam acara peresmian pabrik yang dihadiri oleh Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, di Desa Cijambe, Garut, Selasa (11/1). 

Tahan Hingga 15 Jam

Menurut Uton, tujuan pendirian pabrik energi terbarukan ini untuk mewujudkan program kemandirian energi masyarakat pedesaan. Selain itu, kata dia, hasil produksi bioethanol ini diharapkan dapat mengantisipasi terjadinya krisis energi di Indonesia.

Pengoperasian pabrik ini telah berlangsung sejak Maret 2009 lalu dengan jumlah pekerja mencapai 20 orang. Kapasitas produksi setiap harinya mencapai 200 liter dengan kebutuhan bahan baku singkong sebanyak 1,5 ton. Sementara biaya produksi yang dibutuhkan untuk menghasilkan setiap satu liter bioethanol mencapai Rp 7 ribu.

Manager Pabrik Bioethanol, Muhtarom, menyatakan, bioethanol produksinya itu dapat digunakan untuk membersihkan alat kesehatan dan juga untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar rumah tangga. Satu liter ethanol dijual kepada masyarakat dengan harga Rp 10 ribu.

Etanol hasil produksinya itu memiliki kadar ethanol sebesar 90-94 persen. Kadar ini hanya cocok untuk kebutuhan sehari-hari, tidak dapat digunakan untuk bahan bakar kendaraan. Soalnya, kadar ethanol yang diperlukan untuk bahan bakar sebesar 99,5 persen. “Ethanol yang kita hasilkan belum bisa digunakan untuk kendaraan atau bahan bakar,” ujarnya.

 
Ketua Presidium ICMI, Ilham Akbar Habibie memberikan sambutan

Muhtarom menambahkan, ethanol ini hanya digunakan masyarakat untuk keperluan memasak. Keunggulan ethanol ini, dibandingkan minyak tanah, di antaranya memiliki daya tahan yang cukup lamam hingga mencapai 15 jam, sedangkan minyak tanah hanya bertahan 3 jam. Selain itu ethanol ini juga tidak mengeluarkan bau tidak sedap.

Untuk menghasilkan ethanol, lanjut Muhtarom, diperlukan waktu selama empat hari. Proses untuk menghasilkan etanol dengan cara singkong yang telah dibersihkan diparut dengan menggunakan mesin untuk diambil sarinya.

Setelah diendapkan selama satu jam, sari singkong tersebut dipanaskan di dalam tangki khusus hingga menjadi bubur dengan waktu selama 6 jam. Setelah dingin, dimasukkan ke dalam tangki fermentasi selama 3 hari. Baru dipanaskan kembali selama 4 jam dengan suhu 100 derajat di dalam tangki destalasi. “Dari teng ini baru keluar ethanol,” ujarnya.

Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan, meminta bioethanol ini bisa menjadi program yang dapat dirasakan masyarakat. Bahkan, dia berharap bioethanol ini bisa menjadi bahan bakar kendaraan.  “Bila bioethanol Ini sukses, krisis energi di Indonesia akan diselesaikan dari Kabupaten Garut,” ujarnya. (Sigit Zulmunir)

sumber:tempointeraktif.com

Medco kekurangan bahan baku singkong

Tuesday, 24 May 2011 18:39   
Ekonomi & Bisnis
WASPADA ONLINE









JAKARTA - Presiden Direktur PT Medco Downstream Indonesia, Bambang W Sugondo, menyatakan saat ini produksi bio etanol PT Medco Energi Internasional Tbk di Lampung kekurangan bahan baku singkong. Sehingga, produksi pabrik bio etanol Medco belum optimal.

"Produksi bio etanol Medco hanya sebesar 126.000 kiloliter per hari. Padahal kapasitas pabrik sebesar 180.000 kiloliter per hari. Produksi kita masih 70 persen, karena kita agak susah mendapatkan singkong akhir-akhir ini," ujar Bambang, sore ini.

Walaupun kesulitan mendapatkan bahan baku, Hingga akhir tahun, Medco berencana untuk mengerek produksi hingga 100 persen sesuai dengan kapasitas produksi. Hasil produksi pabrik bio etanol tersebut akan dijual untuk domestik dan ekspor.

Dikatakan, untuk porsinya, sebesar 50 persen dijual ke domestik dan sisanya sebesar 50 persen dijual untuk ekspor. "Ekspornya macam-macam. Ada yang ke China dan Korea," unkapnya.

Medco berencana untuk melakukan ekspansi dengan membangun pabrik bio etanol baru di Lampung pada akhir 2014 atau awal 2015. Kapasitasnya mencapai 180.000 kiloliter. Tak cuma memperluas pabrik di Lampung, Medco juga bakal membangun pabrik bio etanol di Merauke, Papua.

Pabrik di Papua ditargetkan bisa berproduksi sebanyak 180.000 KL bio etanol. Saat ini prosesnya masih dalam tahap pembebasan lahan tebu dan riset produksi tebu. "Kita belum punya angka investasi, tapi jika mengacu pabrik etanol standar mungkin bayangan saya untuk pabrik saja maksimum sekitar US$150 juta, di luar tanah," katanya.

Sementara itu, Asosiasi Produsen Biofuel (Aprobi) mencatat produksi bahan bakar nabati nasional pada kuartal pertama 2011 mencapai 300.000 kiloliter. "Sampai kuartal pertama tahun totalnya mungkin lebih dari 300.000 kiloliter," kata Sekjen Aprobi, Paulus Cakrawan.

Angka ini masih jauh dari target yang dipatok pemerintah. Dalam hitungan pemerintah, produksi bahan bakar nabati (BBN) tahun ini mencapai sekitar 800 ribu KL. Rinciannya, biodiesel 590 ribu KL, dan 200 ribu KL. “Kalau ditambah dengan ekspor, total produksi tahun ini harusnya 1 juta KL lebih,” jelasnya.

Paulus mengatakan, pengembangan BBN memang sulit diterapkan menyeluruh secara langsung. Pasalnya, pengembangan pemakaian BBN masih terkendala masalah distribusi dan kebijakan harga.

Ketika Singkong Banyak Diincar

Rencana pengembangan 30 pabrik bioetanol untuk memproduksi bahan bakar nabati dari singkong mendongkrak harga singkong sampai 100%.

Singkong sudah naik kelas. Dulu si ubi kayu ini hanya dijadikan sumber pangan kelas bawah, gaplek, tapioka, dan pakan ternak. Kini, ia bisa disulap menjadi bahan bakar yang sangat potensial, bioetanol. Oleh sebab itu, diperkirakan singkong akan jadi bahan rebutan antara pabrik tapioka, pabrik pakan, maupun pabrik etanol.
Tahun depan, pemerintah memprogramkan substitusi bioetanol 1% dari total kebutuhan bahan bakar premium sebanyak 19,66 juta kilo liter. Dengan 1% saja, berarti dibutuhkan ketersediaan bioetanol sebanyak 196,6 juta liter.
Menurut Eko Harwinanto, Manajer Perencanaan PT Madusari Lampung Indah (MLI), Grup Molindo, produsen etanol di Lampung Timur, untuk memproduksi 1 liter etanol diperlukan 7 kg singkong. Oleh karena itu, untuk menyediakan 196,6 juta liter etanol, paling tidak dibutuhkan pasokan singkong sebanyak 1,38 juta ton.

Gandeng Petani
Tanpa menyebutkan kapasitas, Ditjen Tanaman Pangan sudah menghitung kebutuhan pabrik bioetanol untuk tahun ini dan tahun depan, yang masing-masing 7 dan 30 pabrik. Kenyataan di lapangan, sampai Mei lalu, pabrik etanol berbahan baku singkong yang sudah dibangun baru ada tiga: PT Molindo Raya Industrial (MRI) di Malang, MLI, dan PT Medco Ethanol Lampung.
MRI memiliki kapasitas terpasang 40.000 kilo liter/tahun. Sementara MLI dan Medco masing-masing berkapasitas 50.000 kl/tahun dan 60.000 kl/tahun. Namun, pabrik bioetanol di Lampung itu baru bisa beroperasi akhir 2008.
Meskipun begitu, MLI sudah mengelola lahan singkong 1.600 ha di Lampung Timur dengan melibatkan 1.400 petani. “MLI menggandeng petani dalam bentuk kemitraan sejak tahun lalu,” ucap Eko. Begitu pula dengan Medco sudah merangkul petani di Lampung Utara. “Saya sudah bermitra dengan Medco,” aku Winarto, petani singkong di Sawojajar, Lampung Utara.
Sementara di sentra produksi lainnya, pembangunan pabrik etanol baru pada tahap penandatanganan nota kesepahaman. Di Jabar misalnya, perusahaan asal Korsel, LBL Network Ltd., berencana membangun pabrik bioetanol senilai US$100 juta di Sumedang. Demikian juga PT Medco Energi akan membangun pabrik etanol senilai Rp200 miliar—Rp300 miliar di Pameungpeuk, Garut. Seperti halnya di Lampung, kedua perusahaan ini pun menggandeng petani sebagai pemasok bahan baku.

Harga Naik
Meskipun pabrik etanol singkong belum beroperasi, namun hal itu sudah berimbas pada perbaikan harga singkong di tingkat petani. Menurut Yordan Bangsaratoe, pengusaha singkong di Lampung Utara, sebelumnya harga jual singkong ke pabrik tapioka hanya Rp100—Rp200/kg. Bahkan ketika panen raya, harganya anjlok di bawah Rp50/kg. Namun, dalam 5—6 bulan terakhir, harganya melonjak menjadi Rp400—Rp425/kg.
“Kondisi ini menguntungkan bagi petani sehingga membangkitkan gairah petani untuk mengusahakan singkong,” ungkap Yordan. Bahkan, ada beberapa petani yang dulu menggarap sawit, kini beralih mengupayakan singkong.
H. Kurniawan, Ketua I  Asosiasi Petani Ubi Kayu dan Tanaman Industri (Aspekti) Lampung, berharap, dengan bakal beroperasinya sejumlah pabrik bioetanol di Lampung, harga singkong bisa lebih baik lagi. Soalnya, harga jual etanol saat ini mencapai Rp6.000/kg.
“Hitungan saya, harga singkong bisa mencapai Rp500—Rp600/kg, jika pabrikan etanol tidak mengambil untung terlalu besar,” ucap Yordan. Pun Sutopo Lajir, pengusaha singkong yang memiliki 200 ha di Lampung Utara yakin harga singkong bakal lebih baik lagi di tahun depan.
Lampung yang sejak dulu memang merupakan lumbung singkong, pada masa mendatang akan dijadikan sentra pengembangan etanol nasional. Menurut Susilo Sugiarto, Manajer Kemitraan MLI, di sini akan ada 4—5 pabrik etanol yang akan beroperasi. Berdasar data Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Lampung, setiap tahun 300.000 ha lahan ditanami singkong dengan produksi rata-rata 30 ton/ha. Daerah ini mampu menghasilkan singkong 9 juta ton/tahun berarti menyumbang 65—70% terhadap kebutuhan nasional.

Tingkatkan Produksi
Dengan harga lebih tinggi di pabrik etanol, tentunya akan berdampak kepada pasokan bahan baku singkong ke pabrik tapioka yang telah ada di Lampung selama ini. Untuk itu, Ahmad Sanusi, Humas PT Budi Acid Jaya, pemain terbesar tapioka di Ketapang, Lampung Utara, mengatakan, pabriknya akan melakukan pembenahan untuk menjaga suplai bahan baku singkong ke pabriknya yang berkapasitas 700—800 ton/hari itu.  Caranya dengan membangun kemitraan dengan petani dan mengembangkan varietas unggul.
Yordan optimistis, petani akan tergerak untuk menambah areal tanaman singkong asalkan ada keberpihakan pemerintah guna memberdayakan mereka. Keberpihakan itu meliputi bimbingan teknis budidaya, permodalan, sarana produksi dan pengolahan hasil produksi. “Jika petani selama ini hanya mampu memproduksi 20—30 ton/ha/tahun, maka dengan dukungan stakeholder petani dapat meningkatkan sampai 80—100 ton/ha, bahkan bisa melebihi itu,” ungkap mantan bankir BDNI ini.
Sementara itu H. Kurniawan meminta pemerintah lebih memperhatikan petani agar pabrik bioetanol yang dibangun menghabiskan dana miliaran rupiah bisa beroperasi normal dengan tersedianya bahan baku berkesinambungan. Saat ini, menurutnya, perhatian pemerintah memang minim. “Hanya ada alokasi dana dari APBN untuk pengadaan bibit unggul singkong di Lampung Utara. Itu pun jumlahnya tidak besar,” tegas Kusnardi, Kasubdin Bina Produksi, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Lampung, pekan lalu.
Kendati begitu, pihak dinas terus berupaya mendongkrak produktivitas singkong petani melalui sosialisasi singkong muhibat, yakni singkong sambung yang bagian atasnya singkong karet dan batang bawahnya singkong biasa.
Menurut Susilo, singkong muhibat belum banyak diminati petani karena pabrik tapioka tidak mau menampung. Dalihnya, ukuran umbinya yang jauh lebih besar tidak sesuai spesifikasi mesin di pabrik. “Saat ini petani yang sudah mengembangkan singkong muhibat di Lampung Utara dan Lampung Timur yang mampu menghasilkan 100 ton/ha karena isinya lebih besar dan lebih banyak,” ungkap lulusan Unila ini.
Ditambahkan Kusnardi, untuk menghasilkan lebih banyak singkong, petani juga tengah membudidayakan ubi kayu varietas unggul Darul Hidayah yang produktivitasnya mencapai 100 ton/ha. Demikian pula PT Budi Acid Jaya, tengah mengujicoba varietas baru asal China di lahan seluas 100 ha yang dikabarkan mampu menyamai Muhibat dan Darul Hidayah.

Perluas Lahan
Kecuali intensifikasi dengan varietas unggul, masih pula dimungkinkan perluasan lahan untuk mendongkrak pasokan singkong. Muhlizar Murkan, Direktur Budidaya Kacang– Kacangan dan Umbi-Umbian, Ditjen Tanaman Pangan, menunjuk potensi lahan kering di 8 provinsi, yaitu Sumut, Lampung, Jabar, Jateng, Yogyakarta, Jatim, NTT, dan Sulsel yang mencapai luasan 6,5 juta ha.
Khusus di Jabar, Agus Kordiat, Kasi Palawija Dinas Pertanian mengatakan, sasaran luas lahan singkong tahun ini 120.816 ha yang tersebar di Garut, Tasikmalaya, Ciamis, Bandung, Bogor, dan Cianjur.
Dengan adanya perluasan lahan tersebut diharapkan produksi singkong nasional naik dari tahun silam yang tercatat sebanyak hampir 20 juta ton. Singkong sebanyak ini didapat dari luas panen 1,2 juta ha dengan rata-rata produktivitas 163 kuintal/ha. Sebelum dilirik menjadi bahan baku etanol, selama ini singkong tersebut berperan sebagai sumber pangan, bahan baku industri tapioka, dan pakan ternak. Dalam bentuk gaplek, tapioka, dan ampas gaplek, komoditas ini sudah diekspor ke mencanegara.
Di dalam negeri, pengunaan singkong tercatat untuk pangan  64%, industri 34% dan pakan ternak 2%. Proporsi ini mengambarkan perlunya upaya serius dari pemerintah, swasta dan petani sendiri untuk meningkatkan produksi singkong, sehingga penyediaan bahan baku bagi pabrik bioetanol nantinya tidak mengganggu alokasi singkong untuk pangan dan pakan ternak. Tanpa itu, prediksi terjadinya rebutan bahan baku antara pabrik tapioka yang sudah ada selama ini dengan pabrik etanol yang akan berproduksi akhir tahun depan akan menjadi kenyataan.
Yan Suhendar, Dadang WI, Krus Haryanto, Selamet, Syafnijal, Muhanda


Berebut Bahan Baku
Angin segar yang dirasakan petani singkong lantaran adanya pabrik etanol ternyata terasa bikin sesak napas pabrik tapioka skala menengah dan kecil.

Ambil contoh PT Sari Bangun (SB), produsen tapioka skala menengah di Desa Buyut, Gunung Sugih, Lampung Tengah. Burhaya A.Thalib, Kabag Umum PT SB mengakui, harga singkong sekarang yang Rp400/kg telah membuat perusahannya kesulitan memperoleh bahan baku. Apalagi, jika kelak harus bersaing dengan pabrik etanol. Saat ini saja dengan harga tersebut pihaknya sudah kalah bersaing dengan pabrik tapioka skala besar seperti PT Budi Acid Jaya.
 “Walaupun masih sanggup membeli, kami terpaksa mengurangi produksi yang biasanya setiap hari jadi hanya berproduksi 3 kali seminggu karena nggak ada bahan bakunya,” ungkap Burhaya. Lebih jauh ia berharap, pemerintah mengulurkan bantuannya agar keberlangsungan pabrik yang berdiri sejak 1972 ini terjaga. Bantuan ini paling tidak dalam bentuk pengaturan alokasi produksi singkong. Pasalnya, pabrik yang berkapasitas 60—70 ton/hari ini mempekerjakan 200 tenaga lepas dan 40 karyawan. Lagi pula, “Kami pula yang menampung singkong dari petani yang menjual dalam jumlah kecil menggunakan gerobak dan sepeda. Jika tidak ada yang nampung, bagaimana mereka akan menjual produksinya,” ucapnya.

Yan Suhendar, Krus Haryanto

ITS Temukan Pengganti Minyak Tanah dari Singkong

SURABAYA--MI: Temuan energi alternatif terus berdatangan. Kali ini satu temuan lagi datang dari Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya, berupa bahan etahnol untuk bahan bakar penganti minyak tanah.

Ethanol selama ini dikenal sebagai bahan dasar alkohol dan parfum. Namun, temuan ITS Surabaya justru etahnol diambil dari bahan alami yang ada di sekitar masyarakat, yakni singkong gondrowu.

Bahkan, tingkat efisiensi ethanol dibandingkan dengan minyak tanah cukup jauh. Satu liter ethanol setara dengan sembilan liter minyak tanah.

Karena mengunakan bahan ethanol, kompor yang dipergunakan adalah kompor khusus yang diperuntukan bahan etahnol. Pihak ITS juga telah menciptakan kompor tersebut bekerja sama dengan perusahaan pembuatan kompor di Probolinggo, Jawa Timur.

Peneliti ethanol dari Fakultas MIP ITS Sri Nurhatika mengatakan, untuk membuat energi alternatif ini mudah. Bahkan, bisa dilakukan oleh masyarakat awam. Yang penting bahannya memiliki kandungan karbohidrat, seperti singkong.

Bahan baku yang diuji coba ITS adalah singkong gondrowu, jenis singkong berukuran raksasa yang tidak dikonsumsi oleh masyarakat karena rasanya pahit dan beracun.

Namun, dibalik itu semua teryata singkong ini mengandung nilai yang luar biasa untuk bahan bakar. Bila tidak ada singkong bisa juga dengan bahan lain yang memiliki kandungan karbohidrat.
Ika mencontohkan, ethanol ini di Bekasi dapat dibuat dari limbah kulit kacang koro, sedangkan di daerah Kediri menggunakan limbah tahu. "Kami juga sedang mengincar Probolinggo karena di sana banyak sekali tetes tebu," ujarnya.

Proses pembuatannya juga sederhana. Ketela atau bahan-bahan lain tersebut dihaluskan, lalu direbus. Kemudian ditambahkan enzim amylase dan diberi ragi. "Untuks ementara ini, ragi tape biasa pun bisa digunakan. Tapi kami sedang mengkaji lebih lanjut ragi khusus untuk ethanol ini," lanjutnya.

Larutan ini didiamkan selama tiga sampai empat hari agar proses fermentasi berjalan. Setelah itu, ethanol akan dihasilkan. "Tapi kadar ethanol ini masih 90%. Sementara untuk kompor kami membutuhkan kadar ethanol sebesar 95%," kata Ika.

Untuk menaikkan kadar ethanol, katanya, perlu ditambahkan batu kapur. Ini perlu dilakukan sebab ethanol dengan kadar di bawah 95% masih mengandung Pb (timbal). Sedangkan ethanol untuk bahan bakar kompor harus bebas dari Pb. "Pb-nya bisa meledak, makaya harus bersih dari Pb," lanjutnya.

Sementara itu, kompor yang digunakan untuk bahan bakar itu dirancang khusus. Pembuatannya dilakukan bekerja sama dengan Koperasi Manunggal Sejahtera.

Keunggulan bahan bakar ethanol selain lebih ekonomis juga terbukti tanpa jelaga. Namun, pemanasan ethanol diakui Ika lebih lama jika dibandingkan dengan minyak tanah.

"Untuk memasak mi, kompor minyak tanah membutuhkan waktu 10 menit. Sedangkan kompor ethanol dua hingga tiga menit lebih lama," ujarnya. (FL/OL-01

Mobil Berbahan Bakar Singkong

Karya Anak Bangsa
 
Senin, 24 Mei 2010 | 13:10 WIB


JAKARTA, TRIBUN - Komisi Nasional Masyarakat Indonesia (KNMI) bekerja sama dengan PT. Energy Karya Madani berhasil menciptakan Bioetanol yang kemudian disebut Biopremium yang ramah lingkungan. Uniknya, bahan bakar pengganti bensin tersebut diolah dari tanaman singkong.
"Kami sudah uji coba ke 1.200 kendaraan selama beberapa bulan terakhir dan tidak ada kerusakan mesin, baik-baik saja," ujar sang penemu yang juga Dirut PT. Energy Karya Madani, S. Adibrata, Senin (24/5/2010), di Jakarta.
Menurut Kepala Bidang Ekonomi KNMI Endy Priyatna, kelebihan temuan etanol berbahan singkong ini adalah kandungan alkohol atau etil etanolnya bisa mencapai 96 persen, bahkan bisa ditingkatkan hingga 99 persen. "Bisa dibandingkan dengan rata-rata kandungan alkohol pada bahan bakar yang ada sekarang hanya sekitar 70 persen," ungkapnya kepada para wartawan.
Meski dinamakan Biopremium, namun kualitas bioetanol ini setaraf dengan Pertamax keluaran Pertamina. Hal ini sudah diuji pada mobil-mobil mewah yang memiliki cc besar. "Kemarin sudah juga dilakukan test drive dari Jakarta ke Subang dengan jarak sekitar 200 km, dan tidak ada masalah," ujar Endy.
Selain kualitas yang tak kalah baik dengan yang dihasilkan bensin dari bahan bakar fosil, biopremium ini juga dinilai ekonomis. Menurut Endy, untuk menghasilkan satu liter ethanol diperlukan enam kilogram singkong.
Harga singkong yakni Rp 400,00 per kilogram. Berarti satu liter ethanol hanya menghabiskan Rp 2.400,00 ditambah ongkos produksi Rp 1.000,00. Total harga satu liter ethanol singkong menjadi Rp 3.400,00, harga ini jauh lebih murah dengan yang ada di pasaran.
Adapun, siang ini sekitar pukul 11.00 WIB tujuh unit mobil berbendera KNMI dilepas dari Sekretariat KNMI di Jalan Tebet Utara III menuju Surabaya. Ketujuh mobil tersebut sudah berbahan bakar singkong dengan persentase kandungan etanol dari 25-100 persen.
Perjalanan ini selain ditujukan untuk mengetes kemampuan biopremium tersebut pada perjalanan jarak jauh, juga untuk melakukan sosialisasi ke masyarakat tentang sumber daya alternatif ini.
  • sumber: kompas.com

Sorgum, Bahan Baku Alternatif BIO ETHANOL

 
Friday,October,2008
httm://megachristina.blogspot.com/2008/10/sorgum-bahan-baku-alternatif-bioethanol.html

Tanaman Sorgum sebagai bahan baku produksi bio ethanol (bio fuel) telah  direkomendasikan oleh Bank Dunia karena tidak mengganggu ketersediaan bahan pangan dunia dan tidak menimbulkan konflik kepentingan ekonomi sebagaimana yang dapat ditimbulkan jika bio ethanol diproduksi dengan bahan baku singkong, jagung manis, atau kentang manis. Sorghum juga telah dimanfaatkan sebagai bahan baku di Amerika Serikat, India dan China.

Nilai Tambah Tanaman Sorgum
    • Batang sebagai bahan baku pembuatan bio ethanol.
    • Buah-biji sebagai bahan pembuat tepung dan bio ethanol (bio fuel).
    • Ampas produksi  bio ethanol  sebagai bahan pembuatan pakan ternak,  pulp paper dan sumber tenaga listrik.
    • Biaya penanaman dan perawatan tanaman sorgum relatif murah dan mudah.
    • Pembibitan varietas unggul tanaman sorgum relatif mudah dan murah.
Singkong (Ubi Kayu) Sebagai Bahan Baku Bio-Ethanol
    • Singkong tanaman yang mudah ditanam dan dikenal semua kalangan terutama oleh para petani.
    • Singkong terdiri dari banyak varietas unggulannya.
    • Mudah dan murah perawatannya.
    • Limbah produksi sebagai bahan kompos / organik.
Pemanfaatan Produk Bio Ethanol.
    • Kadar 99,5% up, sebagai subsitusi Bahan Bakar Minyak jenis bensin pada otomotif, dan pesawat.
    • Kadar 90-96% sebagai solvent di  industri makanan, kosmetik, farmasi, consumer goods, dan sebagai bahan dasar substrat kimia. 
    • Kadar 60-70% sebagai bahan bakar pengganti minyak tanah dan cairan antiseptik.
    • Pemanfaatan (utilisasi) ethanol dapat menunjang peluang tumbuhnya industri pendukung.
Peluang.
Dengan  keluarnya  Peraturan  Mentri  dan  Sumber Daya Mineral  (PermenSDM)No.32/2008 tentang Penyediaan, Pemanfaatan dan Tata Niaga BahanBakar  Nabati  (Bio fuel)  Sebagai  Bahan  Bakar  lain,  prospek  industri  bio ethanol di Tanah Air makin cerah. (ad/energy/concern)

Minggu, 18 September 2011

Bioethanol Sebagai Solusi Krisis Energi dan Kelestarian Lingkungan

13 January 2010
Penggunaan bahan bakar fosil (fossil fuel ) setidaknya akan menghadirkan dua ancaman serius yaitu :
A.  Ancaman yang bersifat ekonomis yaitu berupa jaminan ketersediaan bahan bakar fosil , Filosofi yang sangan mudah adalah ketika suatu bahan alam yang setiapa saat diexplorasi tanpa pernah ada proses pemulihan atau pembentukan kembali maka suatu ketika pasti akan mencapai titik klimaks, dan saat itulah yang dimakan krisis energi, akibatnya fruktuasi harga pasti akan timbul belum lagi permasalahan sistem lainnya.
B. Ancaman lingkungan yaitu Polusi akibat emisi pembakaran bahan bakar fosil . Polusi yang ditimbulkan oleh pembakaran bahan bakar fosil memiliki dampak  kesehatan bagi manusia, hewan bahkan lingkungan flora. Polusi berupa gas-gas berbahaya, seperti CO, NOx, dan UHC (unburn hydrocarbon), juga unsur metalik seperti timbal (Pb). Bahkan  ledakan jumlah molekul CO2 yang berdampak pada pemanasan global (Global Warming Potential).
Kesadaran terhadap ancaman serius tersebut telah mengintensifkan berbagai riset yang bertujuan menghasilkan sumber-sumber energi (energy resources) ataupun pembawa energi (energy carrier) yang lebih terjamin keberlanjutannya (sustainable) dan lebih ramah lingkungan.
Alkohol ( -OH ) untuk bahan bakar
Penggunaan alkohol sebagai bahan bakar mulai diteliti dan diimplementasikan di USA dan Brazil sejak terjadinya krisis bahan bakar fosil di kedua negara tersebut pada tahun 1970-an. Brazil tercatat sebagai salah satu negara yang memiliki keseriusan tinggi dalam implementasi bahan bakar alkohol untuk keperluan kendaraan bermotor .
DiIndonesia, saat ini bioethanol sedang dalam “masa menarik” bagi perusahaan swasta maupun BUMN. Artinya Indonesia telah memiliki keseriusan yang sedemikian besar dengan industri bioethanol, meskipun sedikit terlambat dibandingkan negara-negara lain,Tapi dapat dikatakan sebuah peningkatan dalam industri. Indonesia saat ini setidaknya membutuhkan 180 Kiloliter Ethanol perhari, jika ingin disesuaikan dengan target pemerintah yaitu melakukan subsitusi ethanol dan premiun sebesar 10 persen. Saat ini Ethanol skala industri telah diproduksi seperti di PT.Medco Energi ( PT.Medco Ethanol Lampung ) bebahan baku cassava atau singkong, PT.Mulindo raya industrial,PT.Indolampung dan PT.Acidatama Ethanol yang bebahan baku molasses.
Ethanol bisa digunakan dalam bentuk murni ataupun sebagai campuran untuk bahan bakar gasolin (bensin) maupun hidrogen. Interaksi ethanol dengan hidrogen bisa dimanfaatkan sebagai sumber energi fuel cell ataupun dalam mesin pembakaran dalam (internal combustion engine) konvensional. Ethanol memiliki satu molekul OH dalam susunan molekulnya. Oksigen yang inheren di dalam molekul ethanol tersebut membantu penyempurnaan pembakaran antara campuran udara-bahan bakar di dalam silinder. Ditambah dengan rentang keterbakaran (flammability) yang lebar, yakni 4.3 - 19 vol dibandingkan dengan gasoline yang memiliki rentang keterbakaran 1.4 - 7.6 vol pembakaran campuran udara-bahan bakar ethanol menjadi lebih baik -ini dipercaya sebagai faktor penyebab relatif rendahnya emisi CO dibandingkan dengan pembakaran udara-gasolin. Ethanol juga memiliki panas penguapan (heat of vaporization) yang tinggi, yakni 842 kJ/kg (Al-Baghdadi, 2003). Tingginya panas penguapan ini menyebabkan energi yang dipergunakan untuk menguapkan ethanol lebih besar dibandingkan gasolin. Konsekuensi lanjut dari hal tersebut adalah temperatur puncak di dalam silinder akan lebih rendah pada pembakaran ethanol dibandingkan dengan gasolin.
Ethanol murni akan bereaksi dengan karet dan plastik (Wikipedia). Oleh karena itu, ethanol murni hanya bisa digunakan pada mesin yang telah dimodifikasi. Dianjurkan untuk menggunakan karet fluorokarbon sebagai pengganti komponen karet pada mesin konvensional. Selain itu, molekul ethanol yang bersifat polar akan sulit bercampur secara sempurna dengan gasolin yang relatif non-polar, terutama dalam kondisi cair. Oleh karena itu modifikasi perlu dilakukan pada mesin yang menggunakan campuran bahan bakar ethanol-gasolin agar kedua jenis bahan bakar tersebut bisa tercampur secara merata di dalam ruang bakar. Salah satu inovasi pada permasalahan ini adalah pembuatan karburator tambahan khusus untuk ethanol (Yuksel dkk, 2004). Pada saat langkah hisap, uap ethanol dan gasolin akan tercampur selama perjalanan dari karburator hingga ruang bakar Ememberikan tingkat pencampuran yang lebih baik.
Kebijakan Pemerintah dan minat inversor merupakan dua faktor besar yang menentukan berhasil atau tidaknya Indonesia menjadi salah satu negara penghasil bioethanol didunia. Sesungguhnya potensi indonesia sangat besar dan memungkinkan tercapainya hal itu, dengan tumbuhan penghasil pati dan glukose tersebar hampir diseluruh penjuru negeri. Indonesia BISA!!
Sumber :
http://teknologi.kompasiana.com/internet/2010/01/13/bioethanol-sebagai-solusi-krisis-energi-dan-kelestarian-lingkungan/

Pabrik Bioethanol Pertama di Sumapapua Bahan Baku Singkong Di Mamuju sudah bisa Beroperasi 

19 March 2011





Lokakarya sehari tentang Pengembangan Energi Alternatif dalam rangkain  selesainya di Bangun sebuah pabrik Bioetanol berbahan baku Singkong di sebuah Uni pemukiman Transmigrasi bernama Botteng Kabupaten Mamuju dislelenggarakan hari ini Sabtu ( 19/3) bertempat di salah satu Ruangan Sekolah Dasar di Lokasi yang masih dalam binaan Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi bekerja sama dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Mamuju Provisnsi Sulawesi Barat.
Pabrik Bioethanol di UPT.Botteng ini adalah pabrik Pertama di Sumapapua dari tiga pabrik bantuan Pemerintah lewat Kementerian ESDM yang bekerja sama dengan Kementrian Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI, 1 buah ditempatkan di NTT perbatasan Indonesia dan Timor Leste dan 1 buah lagi di Kalimantan Tengah.
Untuk menuju ke Lokasi Pabrik Bioetanol dalam kondisi cuaca bersabat dapat ditempuh hanya dalam waktu 1 jam perjalanan dengan kendaraan Motor atau Mobil, dengan arak kurang lebih 30 Km arah Selatan Ibukota Provinsi Sulawesi Barat Mamuju. Namun karena cuaca hari ini huan maka kendaraan roda empat hanya bisa sampai 1,5 Km sebelum Lokasi, maklum Jalanan ke Lokasi yang berada di ketinggin 488 Meter dari Permukaan laut  ini menanjak dalam belum beraspal, disaat hujan turun akan menjadi licin dan sulit dilalui kendaraan roda 4. Akhirnya dengan menumpang OJek Motor rombongan termasuk penulis naskah tiba di Lokasi.
Lokakarya yang berlangsung semarak dan berbobot ini dibuka oleh Kepala Balai Besar Pengembangan Latihan Ketransmigrasian Jakarta yang diwakili Ir.Sri Werdaningsih, MAE  yang intinya mengatakan bahwa Pabrik ini adalah bantuan pemerintah dalam hal ini kementrian ESDM bekerja sama dengan Kementrian Tenaga Kerja dan Transmigrasi agar dipelihara dengan baik, dimanfaatkan dengan baik yang bertujuan untuk untuk kesejatraan masyarakat dari dan untuk masyarakat itu seindiri, Lokakarya dihadiri pula oleh para Narasumber dari Direktorat Energi Baru terbarukan dan Konservasi Energi  Kementrian ESDM, yang mewakili Direktur Pengembangan Usaha Dirjen P2MKT  Kementrian Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI,para Kepala Dinas terkait tingkat Provinsi Sulawesi Barat dan Kabupaten Mamuju. Dengan peserta Lokakarya Pengelola Pabrik Bioethanol dan Pemuka masyarakat UPT.Botteng berjumlah 60 Orang.
Lokakarya ini dislenggarakan oleh Unit Pelaksana Teknis Pelatihan Balai Latihan Transmigrasi Makassar bekerja sama dengan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Mamuju sebagai Tuan Rumah.
Dalam kata sambutannya Kepala UPTP.Balatrans Makassar Ir.Bambang Haryadi,MM sebagai Ketua Panitia Penyelenggara di Botteng mengucapkan terima kasih atas kerjasama semua pihak baik itu peserta maupun para Narasumber dari Instansi terkait seperti Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Prov.Sulawesi Barat dan Kabupaten Mamuju, Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi dan Kabupaten, Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten, Dinas Pertanian Kabupaten Mamuju, atas kerjasama yang baik sehingga Lokakarya ini berlangsung dan terselenggara dengan baik.
Lokakarya ini diselenggarakan masih terkait dengan Pelatihan Tenaga Pengelola yang dilaksanakan pada tanggal  29 Nopember 2010 kami dari Dinas Sosial tenaga kerja dan transmigrasi kabupaten Mamuju berkenan membuka Pelatihan pengembangan energi  alternatif  kabupaten Mamuju yang dilaksanakan di Unit Pemukiman transmigrasi Daerah Botteng kecamatan Simboro kepulauan yang disiapkan menjadi Desa Energi Mandiri ( DEM ) sebagaimana yang Saya tulis sebelumnya http://green.kompasiana.com/polusi/2010/11/30/bbn-alternatif-pengganti-bbm-botteng-desa-mandiri-energi/.
PENINJAUAN LOKASI MPABRIK
Sebelum Acara Lokakarya dimulai terlebih dahulu rombongan meninjau Pabrik pengelohan dari tenaga pihak pengeloa warga Transmigran yang sudah dilatih memberi penjelasan step-step pengoprasian mesin untuk merubah Singkong menjadi Bahan Bakar Nabati, dengan kadar 75 % hingga 95 % dengan langsung melakukan Ujicoba didepan para rombongan.
Pabrik berkapasitas 3 Ton Singkong / hari dioprasikan dengan Pembangkit Listrik Tenaga genset, dari 7 Kg Singkong ( ubi kayu ) dapat menghasilkan 1 Liter Bioetahnol, Bioethanol ini adalah pengganti Bahan Bakar Minyak baik untuk Minyak Tanah uga utuk pembangkit Listerik  maupun bahan bakar untuk motor dan mesin2 lainnya. Untuk saat sekarang ini produksi pabrik tersebut baru dapat digunakan untuk Pengganti Bahan Bakar Minyak tanah dan untuk pembangkit Listerik Pedesaan, untuk digunakan pada mesin-mesin motor  masih memerlukan campuran Bensin untuk menghidupkan mesin pertama kalinya atau dicampur dengan campuran 1 Bensin berbanding 2 Bioethanol  ini disebabkan karena Minyak Nabati dari singkong masih mengandung sedikit air. Dari hasil Uji Coba diketahui bahwa menggunakan Alternatif Bahan Bakar Bioethanol  dari Singkong jauh lebih hemat dari menggunakan BBM dengan mengambil sample dari  1 Liter minyak tanah yang dipakai untuk menghidupkan  untuk kompor hanya bertahan kurang lebih 4 Jam saja, namun dengan menggunakan Bioethanol bisa bertahan hingga 8 jam, penghematan yang sangat-sangat  signifikan.
BAHAN BAKU SINGKONG
Sebagaimana telah dijelaskan bahwa kapasitas Pabrik adalah sekitar 3000 Kg   ( 3 Ton ) Singkong perhari, untuk memenuhi kebutuhan pabrik Bioethanol ,  para Transmigran membentuk kelompok Petani Singkong yang akan menanam singkong di lahan mereka untuk memasok singkong minimal 1000 Kg singkong perhari agar Pabrik ini dapat berjalan lancar. Harga singkong basah dipasaran hanya Rp.300 /kg.
Untuk kebutuhan Pabrik dibutuhankan  singkong yang dipanen antara 8 bulan sampai 1 tahun, diharapkan setiap kelompok melakukan pernanaman secara bergantian untuk mencegah agar pasokan dapat berkesinambungan, menurut beberapa orang petani yang kami temui mengatakan bahwa 1 pohon singkong berumur antara 8 bulan sampai 1 tahun menghasilkan singkong seberat 40 Kg singkong basah. Namun salah satu Kabid pada  Dinas Pertanian Kabupaten Mamuju  menjelaskan bahwa untuk memaksimalkan hasil Tanaman singkong mungkin sebaiknya para petani calon pemasok menggunakan Singkong Sambung batang, dengan menyambung Ubi biasa dengan Ubi Karet yang biasa disebut Ubi Mukebat hasilnya bisa mencapai 80 sampai 100 Kg/Pohon dalam kondisi di tanam di daerah Transmigrasi yang masih subur.
KALKULASI HASIL YANG BISA DICAPAI,
Apabila Mesin  yang sudah diuji coba dapat beroperasi sesua dengan apa yang telah direncanakan maka beberapa keuntungan dapat diperoleh, saya mencoba untuk membuat hitungan secara kasar berdasarkan hasil Lokakarya yang saya simak dari beberapa pembicara yang menanggapi para peserta Lokakarya dalam ekspose yang berjalan meriah karena sambutan peserta begitu antusias sebagai berikut :
  1. Produksi Bioethanol perhari, kalau saja sehari Pabrik bisa melakukan produk 75 % dari kapasitas pabrik yang berarti 2000 Kg singkong basah, hasil produksi yang bisa mencapai  300  Liter Bioetanol/hari, dalam tanya jawab tersebut diketahui bahwa biaya  produksi diperkirakan sekitar 750 ribu Rupiah.

  2. Kalau hasil produksi Bioethanol bisa dipasarkan untuk memasok Genset Pembangkit Listerik di Lokasi Pemukiman Setempat  dan pengganti Bahan Bakar Minyak Tanah keperluan Rumah tangga untuk kompor seharga Rp.5000/liter maka hasil yang bisa diperoleh untuk setiap harinya adalah sebesar  Rp.1.500.000,-
Ini hanyalah sebuah ilustrasi dari hasil pengamatan sementara di Lokasi Lokakarya yang mungkin dapat dijadikan bahan pengetahuan  bagi masyarakat  bahwa  Bioethanol Energi alternatif  yang ramah lingkungan dan dapat diperbaharui adalah  untuk mengantisipasi  pemanasan global serta  persediaan minyak bumi yang suatu waktu akan terkuras dari perut bumi.***
Berhubung naskah ini terlalu panjang, maka untuk masalah dan hambatan serta cara pemecahan masalah dan hambatan saya akan tulis kemudian, terima kasih.Maaf entah mengapa foto2 yang saya ambil dengan kamera foto canon tidak dapat di upload ke naskah ini, dan akan saya usahakan foto2 akan saya sertakan pada tulisan berikutnya.

Jumat, 16 September 2011

Medco Energy Mengembangkan Bio-Ethanol

Produktifitasnya ditargetkan mencapai 180 kilo liter perhari, atau sekitar 60 ribu kilo liter pertahun. Pabrik itu diharapkan menjadi alternatif energi terbarukan, yang ramah lingkungan.

Menurut Djatnika S Puradinata, Presiden Komisaris Medco Energy Chemicals, bio-ethanol bisa dimanfaatkan 100% sebagai bahan bakar, ataupun dicampur dengan bahan bakar fosil, seperti bensin dan solar.

Hal itu disampaikan oleh Djatnika saat membahas bio-ethanol di acara Green Talk, 89.2 FM Green Radio.

GR (Green Radio): Apa itu bahan bio-ethanol?

DJ (Djatnika): bio-ethanol sama dengan alkohol, berbahan kimia. Disebut bio-ethanol karena bahan bakunya berasal dari bahan biologi, seperti singkong, jagung, tebu dan lain-lain. bio-ethanol dapat meningkatkan oktan number dari bensin, sehingga lebih ramah lingkungan dibandingkan penggunaan bensin secara langsung. Artinya, CO2 yang dihasilkan dari bio-ethanol akan lebih rendah dari emisi yang dikeluarkan bensin dan solar.

GR: Penggunaan bio-ethanol di kendaraan?

DJ: Saat ini, pemerintah mengharuskan pencampuran bio-ethanol ke bahan bakar. Jumlahnya yaitu 1% ke dalam bensin, dan 5% dalam solar. Tidak hanya untuk campuran, bio-ethanol pun bisa digunakan semuanya sebagai bahan bakar. Hal itulah yang membuat unik bio-ethanol.

Namun di Indonesia, pelaksanaan 100% bio-ethanol sebagai bahan bakar belum siap. Berbeda di Brazil, yang sudah menggunakan 100% bio-ethanol dengan memodifikasi kendaraan terlebih dahulu.

GR: Apa kelebihan menggunakan bio-ethanol 100%?

DJ: Segi pembuatan akan lebih murah karena produksinya pun semakin banyak. Hal itu akan berdampak harga untuk dibeli warga pun akan menjadi murah. Hal itu terjadi di Brazil, harga jual bio-ethanol 100% lebih murah dibandingkan bio-ethanol yang dicampur.

GR: Mengapa Medco tertarik mengembangkan bio-ethanol?

DJ: Bio-ethanol berasal dari sumber daya alam yang dapat diperbarui, kebalikan dari bahan bakar fosil. Bahan baku bio-ethanol pun berlimpah di Indonesia, seperti jagung, tebu, singkong, sagu, hingga nira. Yang dikembangkan oleh Medco berasal dari singkong.

GR: Lalu, apa yang sedang dipersiapkan Medco?

DJ: Kami sedang membuat pabrik bio-ethanol, berkapasitas 180 kilo liter perhari atau 60 ribu kilo liter pertahun, di Kota Bumi, Lampung Utara. Pemilihan tempat ini karena disana berlimpah ribuan hektar tanaman singkong.

GR: Penggunaan singkong seperti apa?

DJ: Kami mengembangkan singkong yang bobotnya bisa mencapai 30 kg per satuannya. Singkong olahan tersebut dipilih agar tidak mengganggu singkong untuk pangan warga. Meskipun singkong untuk pangan warga itu bisa menjadi bahan baku bio-ethanol.

GR: Penyediaan singkong itu dari Medco saja atau dari petani?

DJ: Kita bermitra dengan petani yang ada, artinya kita menampung singkong dari mereka. Medco membantu agar pasokan singkong tetap stabil. Caranya dengan membantu menyediakan bibit, penyuluhan ke warga bagaimana cara menanam yang baik, memberi pupuk, hingga proses panennya. Semuanya dilakukan agar petani mampu menghasilkan singkong yang baik.

GR: Proses pembuatan bio-ethanol-nya ramah lingkungan, tidak?

DJ: Tentu saja. Semua tahapan pembuatannya memperhatikan hal itu. Mulai dari proses fermentasi, limbahnya dimanfaatkan jadi pupuk, dikeringkan jadi pakan ternak, hingga dijadikan energi lagi bila dibakar. Bahkan gas metan yang dihasilkan dari proses fermentasi itu kita gunakan untuk turbin menggerakan listrik. Sebisa mungkin Medco akan meminimalisir limbah tersebut.

GR: Bagaimana dengan harga?

DJ: saat ini, biaya produksi masih ada di atas harga penjualan bensin. Sehingga pemerintah, dalam hal ini Dirjen Migas, merencanakan memberikan subsidi pada bahan bakar bio-ethanol. Hal ini terkait suppy-demand yang masih kecil, meskipun pabrik Medco saat ini terbesar di Indonesia. Angka itu cukup kecil bila dibandingkan di Brazil yang telah mencapai produksi 100rb kilo liter pertahun. Bahkan Brazil siap membangun pabrik berkapasitas lebih dari 400 ribu kilo pertahun. Limpahan kapasitas itu membuat harga bio-ethanol terjangkau.

GR: Ada rencana mengembangkan pabrik bio-ethanol di Papua?

DJ: Iya, kami akan membangun pabrik yang lebih besar disana. Hal itu untuk menekan biaya produksi lebih rendah. Bahan baku yang dipakai adalah tebu dan sorgum. Keduanya memiliki potensi sumber energi lainnya yang bisa dimanfaatkan. Sorgum menghasilkan buah yang juga menghasilkan bio-ethanol. Begitu pula tebu, dari proses olahan, tebu menghasilkan bagas atau sisa perasan tebu. Sisa tebu itu dapat menghasilkan listrik dari uap bagas itu.

Diyakini Indonesia bisa menjadi sumber energi terbarukan yang besar, dan menyaingi Brazil. Hal itu bisa tercapai selama Indonesia bisa mengelola sumber daya manusia, potensi alam dan teknologi.

Bioethanol Lebih Ekonomis

Bioethanol bisa dijadikan pengganti bahan bakar minyak. Selain hemat, pembuatannya bisa dilakukan di rumah sendiri dengan mudah. Anda pun akan mendapatkan nilai ekonomis dibandingkan menggunakan minyak tanah. Bila sehari menggunakan minyak tanah seharga Rp 16 ribu, maka dengan bioethanol Anda bisa berhemat Rp 4 ribu. Lebih ekonomis, bukan?

Pengalaman membuat dan menggunakan bioethanol ini diceritakan oleh Bambang Kisudono, warga kota Surabaya yang memanfaatkan sampah dapurnya untuk membuat dan mengembangkan bioethanol di lingkungannya.

Awalnya Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (LPPM) Institut Teknologi Surabaya (ITS) dari kajiannya menyimpulkan bahwa bioethanol dengan kompor khusus terbukti lebih efisien ketimbang kompor kerosin. Temuan ini membuat Bambang berinisiatif melakukan pengolahan bioethanol sendiri.

Sudah sekitar enam bulan, Bambang memakai bioethanol sebagai bahan bakar untuk kepentingan dapur rumah tangganya. Ia bisa berhemat sekitar Rp 4 ribu dibandingkan saat memakai bahan minyak tanah, yang seharinya mengeluarkan Rp 16 ribu.

”Untuk warga pedesaan, nilai rupiah itu bisa dimanfaatkan untuk keperluan lain,” ujarnya.

Perbandingan penggunaan bioethanol dan minyak tanah adalah 1:3. Artinya dengan 3 liter minyak tanah, Anda hanya membutuhkan satu liter bio-ethanol. Dengan volume 100 cc akan membuat api menyala sekitar 30-40 menit.

Bambang menceritakan proses pembuatan bioethanol yang dilakukannya. Menurutnya, bahan baku bioethanol itu terbagi tiga. Bahan berpati, bahan bergula dan bahan selulosa. Bahan baku bergula, misalnya adalah tebu, nila, dan aren. Sedangkan bahan berpati, misalnya ubi kayu, sagu, jagung, biji sogun, dan kentang manis. Bahan ini umumnya dimakan oleh manusia.

”Oleh ITS disarankan pengembangan bioethanol itu tidak menggunakan bahan yang dimakan manusia. Hal itu agar tidak mengganggu ketahanan pangan nasional,” ujarnya.

Untuk penggunaan bahan baku berpati, Bambang memilih singkong yang tidak dimakan manusia, yaitu singkong yang beracun. Lalu, ia pun memanfaatkan limbah sagu dan bonggol jagung. Intinya adalah, ia menghindari bahan baku yang secara langsung dimakan manusia, dan memakai limbah dari bahan makanan tersebut.

”Proses pembuatan bioethanol itu tidak lama. Paling yang agak lama adalah proses peragian yang bisa mencapai 2-3 hari,” kata Bambang.

Bambang pun mulai menjelaskan langkah-langkah yang biasa ia lakukan, dalam membuat bioethanol. Singkong racun dan kulit pisang itu dihancurkannya, dan dijadikan bubur. Setelah hancur, bubur itu dicampur ragi agar menghasilkan glukosa. Proses ini akan menghasilkan bahan baku bergula.

”Nah, bahan bergula yang disebutkan tadi sebenarnya akan mempersingkat proses pembuatan bioethanol. Karena kita melewati proses penghancuran dan peragian itu,” jelasnya.

Setelah mendapatkan glukosa, kemudian dilanjutkan dengan proses fermentasi. Caranya, kembali memberikan ragi ke dalamnya. Dari proses ini maka diperolehlah bioethanol dengan kadar alkohol rendah. ”Setelah proses ini selesai, kita bisa segera memanfaatkannya sebagai bahan bakar untuk memasak,” pungkasnya.

source :http://www.greenradio.fm/index.php?option=com_content&view=article&id=446:bioethanol-lebih-ekonomis&catid=91:bio-energy&Itemid=173